

Empat puluh tahun silam di Nieuw-Guinea Belanda telah diselenggarakan apa yang disebut PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat). Pada peristiwa itu sejumlah 1025 pemilih yang khusus diseleksi memilih untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Nopember 2009 y.a.d selain memperingati peristiwa tersebut yang akan mengambil tempat di Gereja Jacobi di Utrecht kami ingin mengambil kesempatan untuk membahas bersama apa saja yang dapat kita lakukan demi kepentingan dan kemajuan Papua pada saat ini.
Meletakkan Papua di Peta Dunia
Yayasan-yayasan seperti PACE, HAPIN, Pro-Papua dan Papua Lobby telah mengambil prakarsa bersama dengan tujuan meletakkan Papua di atas Peta Dunia. Apakah rakyat Papua telah sanggup dan berpotensi mengembangkan dan menyejahterahkan rakyat dan negerinya secara mandiri? Melalui aspekseperti pendidikan dan hak ulayat harus dapat dinilai apa yang telah tercapai di bidang kulturil, ekonomi dalam jangka waktu empat puluh tahun setelah diselenggarakan PEPERA . Banyak di antara warga Papua pada tahun 1969 merasa tertipu oleh pemerintah kolonial Belanda yang telah menjanjikan kemerdekaan kepada mereka.
Langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah politik sisa-sisa warisan penguasaan kolonial di Hindia Belanda dipercepat dan akhirnya mencapai puncaknya pada tahun 1962. Melalui perundingan internasional dimana Amerika Serikat memainkan peran yang menentukan , pemerintah Negeri Belanda akhirnya setuju menandatangani Persetujuan New York. Pada hari itu melalui radio dan televisi perdana menteri Jan de Quay mengakhiri pidatonya dengan kata-kata “ Siapa yang melakukan tugasnya demi kepentingan negara dan rakyatnya tidak perlu merasa kuatir. Tetaplah berabdi kepada rakyatmu demi kepentingan, pembangunan dan kesejahteraan. Kami dan seluruh rakyat Belanda berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraan Anda. Semoga Tuhan selalu memberkati Anda.” Demikianlah warisan terakhir Belanda kepada rakyat Papua.
Pada tahun 1963 Nieuw-Guinea Belanda dan rakyat Papua membuka babak baru di bawah kekuasaan pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1969 diselenggarakan sebuah referendum dibawah supervisi PBB dengan tujuan menguatkan pemerintahan. Setelah Suharto lengser pada tahun 1998 terciptalah era keterbukaan yang dimanfaatkan rakyat Papua untuk bebas berpendapat dan mengorganisasikan diri. Melalui serangkaian pertemuan dan kongres mereka berhasil menentukan pokok-pokok rencana masa depannya. (edukasi, demokrasi, berbisnis). Tetapi sebagai akibat dari masa pengisolasian dan penindasan oleh penguasa yang berlangsung terlalu lama rencana pembangunan sering berjalan tersendat-sendat dan tergonjang-ganjing.
Tanggal: 28 Nopember 2009
Tempat: Jacobikerk (St Jacobsstraat 171
3511 BP) Utrecht
11.00 - 11.45 Hadirin berkumpul
11.45 - 12.00 Acara dimulai
12.00 - 12.45 ceramah “40 tahun setelah PEPERA , 1969-2009 Pieter Drooglever
12.45 - 13.30 Pendidikan dan Pengajaran di Papua. Tindak lanjut konperensi Gauw, Januari 2009 Friedrich Tometten
13.30 - 14.15 Transparansi dalam kebijakan pemerintah daerah Fransiska Nujuyanan (Forpammer)
14.15 - 15.00 Sela
15.00 - 15.45 Adat dan (masa depan) Peran Wanita dalam proses pembangunan Papua Nancy Jouwe(PACE)
15.45 - 16.30 Hak-hak Budaya Papua Kees van der Meiracker(Papua Lobby)
16.30 - 17.00 Sela
17.00 - 17.45
17.45 - 18.30 Diskusi (Albitha Wambrauw & Nancy Jouwe) dengan kaum panelis Vien Sawor (Rajori), Friedrich Tometten, Fransisca Nuhuyanan (Forpammer), Muridan Widjojo (LIPI), Maarten Haverkamp (CDA), Wytske Inggamer (Hapin)
18.30 - 19.30 Acara Santap Malam
19.30 - 21.30 Jam Session dengan Musisi Papua .
Untuk memperoleh formulir pendaftaran klik disini.
Papua Pride dapat juga diakses melalui Twitter.
Sumber Gambar 1 + 2: Anoek de Groot, lihat website http://www.anoekphotography.com
